Monday, December 12, 2016

Suatu nasehat untuk anak-anakku...



“Bunda jahat ….!!” kataku penuh jengkel.

Bagaimana tidak jengkel, mulai dari awal bertemu, hingga sejam kemudian tanganku terus digandengnya. Kemana ia pergi, disitu ada diriku. Mendengar protes keras aku yang masih berumur 7 tahun saat itu, bundaku hanya tersenyum, tapi tetap terus menggandeng tanganku menuju arah kantin. Senyuman ejekan abang-abangku semakin mendongkolkan hatiku. Aku memandang iri pada kedua abangku yang bisa begitu bebas merdeka berjalan-jalan dan berkeliling di tengah keramaian orang-orang di lobby Asrama Haji Pondok Gede.

Hari itu adalah hari terakhir kami dapat membesuk kedua orang-tua kami, sebelum mereka diberangkatkan menjalani ibadah haji.


Di kantin, bunda membayar pesanan yang telah kami pesan sebelumnya lalu menggiringku ke area kamar asrama. Ia mengambil beberapa obat dan meminumnya. Entah obat apa yang diminumnya.

Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan memberikannya padaku, seraya berkata, “ini buat kamu jajan di rumah,...”

dan kemudian ia memelukku erat… “Sebentar lagi waktu besuk habis, kamu jangan nakal nanti yah Boy….....”.

Beberapa lembar uang kertas di tanganku yang diberikannya ini telah membuat samar semua kelanjutan kata-katanya, bahkan berhasil mengikis habis rasa “jengkel” dan “dongkol” yang tadi tumbuh subur di benakku...… Saat itu anganku sudah terlalu penuh dengan gambar sebuah warung langgananku dekat rumah yang padat dengan semua aneka jajanan yang banyak tergantung.

Sore itu, lebih sebulan setelah peristiwa diatas, aku terbangun dari tidur siang. Di dalam rumah telah banyak orang berseliweran, ada para tetangga dan kerabat famili di ruang tengah, di ruang tamu juga banyak orang, sepertinya mereka adalah para rekan kerja ayahku. Entah ada apa ...Aku dapati kedua abangku di ruang makan bersama seorang paman kami. Mereka sibuk melihat koran, harian terbit sore,begitu sibuknya melihat lembaran berisi kolom-kolom hingga tak sadar atas kehadiranku.

“Ooooh ini dia, ketemu..” seru pamanku sembari melingkari sesuatu dengan pena pada lembar koran tersebut.

“Mana…. ?!?” seperti serempak kedua abangku menyahut, sembari melihat.

Tertarik juga aku ikut melihatnya.. Lembaran koran diatas kolom tertulis : DAFTAR NAMA JEMAAH HAJI WAFAT, dan kudapati nama bunda tercinta dalam lingkaran pena pamanku.

Malam setelah melakukan Wukuf di Padang Arafah, ibunda kami dilarikan ke rumah sakit, dan meninggal pada pagi harinya, tercatat pada surat keterangan kematian dikarenakan penyakit lever yang dideritanya.

-----------

“Mama jahat…!!! Omar yang nakal, aku yang disalahin...” sambil menangis, putri sulungku, Lila (10 thn) mengadu padaku sepulang kantor malam ini.

Ananda Lila memprotes omelan dan teguran mama-nya yang dianggapnya “tidak adil” karena selalu membela kenakalan adik-adiknya.

Kurangkul anakku, sembari kubisikan pelan : “jangan bicara seperti itu tentang mama, itu gak baik yah sayang...”…

Sesungguhnya, masih banyak nasehat yang ingin kuberikan padanya. Namun kondisi hatinya yang masih “jengkel” dan “dongkol” saat ini tentulah mengakibatkan nasehatku tidak akan banyak gunanya… Disamping umurnya dan adik-adiknya yang masih sangat belia tentulah menjadi kendala tersendiri untuk mengerti dalam beberapa hal.

Tulisan ini pun kutulis dengan harapan setelah anak-anakku punya cukup umur nanti (In shaa Allah), akan mampu untuk mengerti bahwa mama-nya punya peran yang sangat penting dalam setiap detik hidupnya, bahwa larangan2 dan omelan2 mamanya pasti punya tujuan yang baik, segala sesuatu pasti ada tujuannya. jangan lah pernah menghardik mama, dan masih banyak lagi pesan lainnya.

Dan tentunya satu lagi yang paling kuharap, pada cerita tentang masa kecilku diatas, mereka akan mengerti bahwa :

“Aku tak pernah ingin mengucapkan “bunda jahat….!!!” kepada bunda tercinta-ku, terlebih di saat terakhir aku dapat bertemu dan melihatnya…”

Tuhan, sampaikan maaf-ku pada bunda…

Jadi anak ayah dan bunda aja ...:)

Senja itu, diberanda rumah bersama ketiga anakku, kulontarkan pertanyaan kepada mereka :

"Kalo kalian sudah besar, apa yang kalian inginkan ?"

"Lila ingin jadi dokter..." sahut Lila, anak sulungku,

"Omar mau jadi dokter juga... eh jadi Polisi aja deh Pa.." ananda Omar menyahut tidak mau kalah.

Yaya, si bungsu memelukku sambil berbisik :

"Yaya ingin jadi anak papa aja....."

Terkesiap aku mendengarnya.

Jawaban sederhana ananda Yaya,yang polos dan lugu namun benar-benar membuat isi perasaanku bercampur aduk.

Bagaimana tidak, seandainya semua anak mempunyai keinginan menjadi "anak orang-tuanya" tentunya ia tak akan mau membuat susah hati ayah dan ibunya dengan kenakalan mereka,'membuat masalah' dan sebagainya. Mereka akan berupaya menuruti apapun keinginan dan harapan orang-tuanya.

Begitupun kita selaku orang-tuanya, tentu tak akan banyak berkuatir akan tingkah laku anak-anak kita serta permasalahan yang mungkin terjadi atas akibatnya, karena yakin akan keinginan mereka untuk menjadi anak kita.

Jauh pikiranku melayang, berharap bisa kembali ke masa lalu, masa dimana ayah dan bundaku pernah bertanya : "Apa yang ananda inginkan kelak ? "

Akan ku peluk erat mereka, mantap tanpa ragu dan kujawab : "Aku hanya ingin jadi anak ayah dan bunda aja" ....

---Mom ,Dad, I miss you ...

Suatu nasehat untuk anak-anakku...

“Bunda jahat ….!!” kataku penuh jengkel. Bagaimana tidak jengkel, mulai dari awal bertemu, hingga sejam kemudian tanganku terus digandengny...